Issue‎ > ‎Issue 18‎ > ‎

002.txt


__ /\ \ __ __ ___\ \ \___ ___ ____ /\_\ ___ __ /'__`\ /'___\ \ _ `\ / __`\/\_ ,`\\/\ \ /' _ `\ /'__`\ /\ __//\ \__/\ \ \ \ \/\ \L\ \/_/ /_\ \ \/\ \/\ \/\ __/ \ \____\ \____\\ \_\ \_\ \____/ /\____\\ \_\ \_\ \_\ \____\ \/____/\/____/ \/_/\/_/\/___/ \/____/ \/_/\/_/\/_/\/____/ [ echo|zine, volume 6 issue 18 ] Pseudo-random: Aksi-Reaksi Brought To You By : anonymous (anonymous/at/echo/or/id) "Technology is most exciting when it upsets the status quo", J. Hockenberry Pertama, mari kita bicara soal perihal merokok. Karena saya belum menemukan informasi yang baik dari sumber lokal, saya terpaksa harus menggunakan apa yang saya dapat dari negara Inggris sebagai bahan. Di negara Inggris baru-baru ini terdapat sebuah hukum[1] yang mengatur bahwa saat ini hanya mereka yang berusia 18 tahun keatas saja yang diperbolehkan membeli produk-produk tembakau (rokok). Kemudian, The Roy Castle Lung Cancer Foundation memperkirakan[2] sekitar 450 remaja mulai merokok setiap harinya. Sekitar 1 dari 6 remaja laki-laki dan 1 dari 4 remaja perempuan sudah menjadi perokok regular pada usia 15 tahun. Dua-pertiga dari perokok remaja mengatakan bahwa mereka kesulitan tidak merokok selama satu minggu. Saya yakin, pemerintah Inggris tentu tidak hanya membuat sebuah hukum yang tidak memperbolehkan remaja dibawah 18 tahun untuk membeli rokok, tapi mereka juga sudah mengkampanyekan bahaya rokok bagi kesehatan. Namun, bagaimana reaksi para remaja yang belum berusia 18 tahun dan yang merasa bahwa merokok adalah hak asazi mereka? Pasti akan ada banyak pertentangan diantara mereka, atau bukan tidak mungkin mereka terpaksa menahan diri untuk tidak merokok sampai mereka berusia 18 tahun, yang tentunya akan lebih memperbanyak jumlah perokok di Inggris. Hal tersebut kita kenal sebagai sebuah aksi-reaksi. Kedua, baru-baru ini Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh, melalui Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) mencoba melakukan pemblokiran terhadap konten-konten yang berbahaya di Internet[3], yaitu: 1. Pornografi 2. Kekerasan 3. Emosional berbasis SARA Setelah disahkannya UU ITE, kemudian muncul komentar tendensius dari seorang yang diaku sebagai "Pakar Telematika" di berbagai media, yang memprediksikan[4] (mungkin saya harus mengganti dengan kata yang lebih tepat, menuduh) blogger dan hacker Indonesia akan melakukan serangan terhadap sistem yang digunakan pemerintah untuk melakukan pemblokiran (sensor). Komentar yang dilontarkan sang pakar berbuah tanggapan yang sudah diduga sebelumnya oleh banyak pihak yaitu ucapan selamat dari mereka yang "iseng" dengan melakukan defacement terhadap situs resmi Kementrian Komunikasi dan Informatika dan sejujurnya saya lebih terhibur karena adanya ilustrasi yang menggunakan foto wajah sang pakar. Lalu, sang pakar lagi-lagi memanfaatkan situasi dan berusaha membangun opini publik bahwa ini adalah ulah dari blogger dan hacker dengan mereferensikannya sebagai "MEREKA". Tapi terus terang saya merasa terhibur oleh gaya bahasa seorang mantan Bapak Blogger Indonesia, Enda Nasution, yang mencoba menquote J. Hockenberry, "Technology is most exciting when it upsets the status quo" dan membahas sebuah cerita fiktif tentang kehidupan di alam halus, alam kasar dan alam maya[5]. Dari sekian banyak luapan informasi, tanggapan, komentar, dukungan maupun sanggahan terhadap disahkannya UU ITE, saya terkesan dengan pesan dari seorang teman via Yahoo Messenger yang mengungkapkan keraguannya untuk bisa merasa bebas menggunakan Internet setelah UU ITE tersebut disahkan. Oh, ya.. jangan berpikir macam-macam dulu, dia perempuan lemah-lembut, dan taat beragama, lho. Apa yang diungkapkan oleh teman tersebut menunjukkan kekuatiran awam tentang kebebasan mereka memperoleh informasi. Walaupun UU ITE yang sebenarnya lebih menekankan perlindungan pengguna akses komunikasi dan informasi menjadi terkesan membatasi ruang gerak pengguna akses tersebut. Terimakasih untuk publikasi yang buruk dari Kementrian Komunikasi dan Informatika dan media yang lebih menekankan isu pornografi dan "beratnya hukuman" jika terjadi pelanggaran. Saya memperkirakan jika implementasi UU ITE akan menjadi seperti yang ditakutkan oleh banyak orang (mungkin tepatnya adalah Komunitas Internet Indonesia) saat ini, akan memicu perkembangan aplikasi yang mendukung privasi. Mungkin aplikasi seperti Tor akan menjadi sangat populer di Indonesia. Selain itu, mungkin orang-orang akan menggunakan encrypted disk atau PGP/GPG untuk menyimpan file-file yang dirasa akan dapat dijadikan barbuk (baca: barang bukti). Selain itu, penggunaan encrypted peer-to-peer network akan meningkat untuk melakukan transfer data. Dan tentunya saya sangat senang terhadap hal tersebut. Mengapa? Karena saya yakin setelah banyak familiar dengan privasi dan mempergunakan enkripsi sebagai bentuk perlindungan data, tidak hanya data barbuk saja yang dilindungi namun juga data yang lain. Saya menghimbau bagi teman-teman blogger dan hacker, untuk tidak berkecil hati karena merasa dipojokkan oleh sang pakar. Teringat pesan dari The Mentor, The Consience of a Hacker, atau yang lebih kita kenal sebagai Hacker Manifesto[6], "sesuatu" mungkin bisa menghentikan aksi seseorang, tapi tidak semua orang. Saya mengharapkan sebuah bentuk aksi-reaksi yang lebih baik dari sekedar melakukan defacement sebuah website karena ini sama seperti "feeding the troll". Website defacement is so last year, men! Terakhir, sebelum saya beranjak tidur...dengan memodifikasi perkataan Tyler Durden (diperankan oleh Brad Pitt) dalam film Fight Club. Look. The people you are after are the people you depend on. We develop your applications. We install your servers. We connect your computers. We deliver your e-mails. We guard your network while you sleep Do not fsck with us. anonymous, the lazy editor-in-chief Referensi: 1. Sophie Hazan, "New law bans young smokers", Yorkshire Evening Post, URL: http://www.yorkshireeveningpost.co.uk/consumerwatch/ New-law-bans--.3247221.jp 2. The Roy Castle Lung Cancer Foundation, "Anti-Smoking Youth Group Celebrates First Anniversary", Press Release, URL: http://www.roycastle.org/pr/pr02,30,05,07.htm 3. Ardhi Suryadhi, "Mengapa Situs Porno Dilarang? Bagaimana Tahu Itu Porno?", URL: http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/ 03/tgl/26/time/133757/idnews/913593/idkanal/399 4. ANT, "Roy Suryo: Harus Didukung Semua Pihak", Kompas, URL: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.25.16513265& channel=1&mn=1&idx=1 5. Enda Nasution, "Alam Halus, Alam Kasar, dan Alam Maya", URL: http://enda.goblogmedia.com/alam-halus-alam.html 6. The Mentor, "The Conscience of a Hacker", Phrack, URL: http://www.phrack.org/archives/7/P07-03 *- $e18dot002dottxt - echo|zine - issue#18 - 280308 -*
Comments